
Tarakanita Tangerang
Selamat datang di website Riset Tarakanita
website yang memberikan informasi seputar pohon - pohon yang ada di Tarakanita Tangerang

Seledri

Apium graveolens L.
Nama lokal: Seledri
Nama ilmiah: Apium graveolens L.
Nama Lokal :
Nama daerah : Di Sunda terkenal dengan nama saladri, sedangkan di Jawa
terkenal dengan nama seledri.
Penemu : Tanaman seledri (Apium graveolens L.) bukanlah hasil penemuan oleh satu individu, melainkan tanaman liar yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan mengalami proses domestikasi secara bertahap oleh berbagai peradaban. Seledri berasal dari wilayah Mediterania dan Timur Tengah, dan telah digunakan oleh bangsa Mesir, Yunani, serta Romawi kuno sebagai tanaman obat maupun bahan makanan. Dalam catatan sejarah Yunani, seledri bahkan dijadikan sebagai simbol kemenangan dan sering dipakai sebagai mahkota dalam ajang olahraga seperti Nemean Games. Budidaya seledri sebagai tanaman konsumsi mulai berkembang pada abad pertengahan di Eropa, khususnya di Italia dan Prancis. Varietas modern yang umum digunakan saat ini merupakan hasil dari proses pemuliaan yang dimulai sejak abad ke-17. Oleh karena itu, tidak ada penemu tunggal tanaman seledri, melainkan warisan dari proses budidaya yang panjang oleh berbagai budaya kuno.
Sejarah singkat : Seledri (Apium graveolens L.) adalah tanaman yang berasal dari kawasan Mediterania dan Asia Barat, yang telah dikenal dan dimanfaatkan sejak zaman kuno. Catatan tertua menunjukkan bahwa bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi kuno telah menggunakan seledri, bukan hanya sebagai bahan makanan, tetapi juga sebagai tanaman obat dan dalam praktik spiritual. Dalam budaya Yunani kuno, seledri dianggap sebagai simbol kesucian dan digunakan untuk membuat karangan bunga untuk para pemenang dalam pertandingan olahraga. Di sisi pengobatan, tanaman ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk gangguan pencernaan dan rematik. Meskipun telah lama dikenal, budidaya seledri sebagai sayuran yang dapat dikonsumsi secara luas baru berkembang di Eropa sekitar abad ke-17. Petani di Italia dan Prancis mulai membudidayakan seledri untuk memperbaiki rasa dan tekstur batangnya yang semula keras dan pahit. Seiring waktu, upaya pemuliaan tanaman menghasilkan varietas seledri yang lebih lembut, renyah, dan enak, sehingga menjadi populer di kalangan masyarakat Eropa. Seledri kemudian menyebar ke Amerika Utara dan menjadi populer di sana pada akhir abad ke-19, terutama setelah teknik penyimpanan dingin memungkinkan distribusi dan konsumsi yang lebih luas. Saat ini, seledri merupakan salah satu sayuran penting di pasar global, digunakan dalam berbagai masakan dan juga tetap dihargai karena khasiat kesehatannya.
Kelompok Sirkulasi darah :
-
Elvira Stevannya Zega XIB/08
-
Laal Kimberlite Albaradey XIB/18
-
Lidya Thessalonica hutabarat XIB/19
-
Sinaga Kyra Putri Garden XIB/30
-
Sion Stenny Bahara Sinaga XIB/31
Klasifikasi
-
Kingdom : Plantae
-
Subkingdom : Tracheobionta
-
Superdivisi : Angiospermae
-
Divisi : Spermatophyta
-
Kelas : Dicotyledonae
-
Subkelas : Rosidae
-
Ordo : Apiales
-
Famili : Apiaceae
-
Genus : Apium
-
Spesies : Apium graveolens L.
Jumlah Populasi
Jumlah populasi : Populasi tanaman seledri di Indonesia belum tercatat secara resmi dalam data statistik nasional seperti yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini disebabkan karena budidaya seledri umumnya masih dilakukan dalam skala kecil dan sering dianggap sebagai tanaman sampingan. Beberapa data lokal menunjukkan adanya usaha budidaya yang tersebar di sejumlah daerah. Sebagai contoh, di Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng (Bali), petani mampu menghasilkan rata-rata 8,9 ton per hektare, bahkan bisa mencapai 15–18 ton per hektare melalui budidaya monokultur yang intensif. Penelitian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura bahkan menunjukkan bahwa potensi hasil tanaman seledri di Indonesia dapat mencapai 40–70 ton per hektare bila dikelola secara optimal. Sementara itu, studi lokal di salah satu daerah mencatat populasi 108 petani seledri, dengan rata-rata luas lahan sekitar 0,0713 hektare per orang. Dari sisi ekspor, pada tahun 2016 Indonesia tercatat mengekspor sekitar 82.454 kilogram seledri dengan nilai sekitar 154 ribu dolar Amerika Serikat, yang sebagian besar berasal dari Sumatera Utara.
Habitat
: Tumbuh baik di ketinggian 1.000-1.500 m dpl dan optimal di lingkungan dengan suhu udara berkisar 16-21 °C. Media tanam yang dihendaki yaitu tanah yang berdrainase baik, mampu menahan air, dan pH tanah berkisar 5,8-6,7.
Ciri morfologi
-
Batang : Tidak berkayu, beralus, beruas, bercabang, tegak, hijau pucat.
-
Daun : Tipis majemuk, daun muda melebar atau meluas dari dasar, hijau mengkilat, segmen dengan hijau pucat, tangkai di semua atau kebayakan daun merupakan sarung.
-
Daun bunga : Putih kehijauan atau putih kekuningan ½ -3/4 mm panjangnya.
-
Bunga : Tunggal, dengan tangkai yang jelas, sisi kelopak yang tersembunyi, daun bunga putih kehijauan atau merah jambu pucat dengan ujung yang bengkok. Bunga betina majemuk yang jelas, tidak bertangkai atau bertangkai pendek, sering mempunyai daun berhadapan atau berbatasan dengan tirai bunga.
-
Tirai bunga : Tidak bertangkai atau dengan tangkai bunga tidak lebih dari 2 cm panjangnya.
-
Buah : Panjangnya sekitar 3 mm, batang angular, berlekuk, sangat aromatik.
-
Akar : Tanaman seledri mempunyai akar tunggang dengan banyak akar samping yang dangkal. Akar tunggang berkembang agak dangkal pada kedalaman 30 cm di bawah permukaan tanah, memiliki cabang-cabang akar yang menyebar ke samping untuk memperluas bidang penyerapan air dan unsur hara serta memperkuat berdirinya batang tanaman.
Manfaat
-
Mendukung kesehatan jantung : Seledri kaya potasium, kalsium, folat, vitamin K, dan flavonoid yang membantu melawan peradangan pada sistem kardiovaskular.
-
Meningkatkan fungsi pencernaan : Serat larut & tak larut serta fitonutrien pada seledri bantu lancarkan pencernaan dan proteksi mukosa lambung.
-
Mengontrol gula darah : Indeks glikemik pada seledri rendah dan kandungan serat tinggi membantu stabilkan kadar gula darah.
-
Menjaga kesehatan mata : Antioksidan seledri membantu melindungi mata dari kerusakan akibat radikal bebas seperti degenerasi makula.
-
Dapat menurunkan berat badan : Seledri mengandung serat dan air yang cukup tinggi serta rendah kalori, sehingga cocok untuk mendukung diet penurunan berat badan.
-
Sumber antioksidan : Antioksidan seledri melindungi sel, pembuluh darah, dan organ dari kerusakan oksidatif.
Sumber Pustaka
-
Cancer Chemoprevention Research Center Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. (2008, 27 Mei). Seledri (Apium graveolens L.). In Ensiklopedia tanaman antikanker. Retrieved June 13, 2025, from https://ccrc.farmasi.ugm.ac.id/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-antikanker/s/seledri/ ccrc.farmasi.ugm.ac.id
-
HaloDoc. (n.d.). Jarang diketahui, ini 12 manfaat daun seledri untuk kesehatan. Retrieved June 13, 2025, from https://www.halodoc.com/artikel/jarang-diketahui-ini-12-manfaat-daun-seledri-untuk-kesehatan
-
Irmayanti, S. (n.d.). BAB II Pembahasan Skripsi: Tinjauan umum tentang hipertensi dan seledri (Apium graveolens L.) [Undergraduate thesis, Universitas Komputer Indonesia]. e‑Library UNIKOM. https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/3583/8/UNIKOM_Sri%20irmayanti_11.%20Bab%20II%20Pembahasan.pdf
-
Manik, H. (2017). BAB I Pendahuluan Skripsi: Efek ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap penurunan tekanan darah pada tikus putih jantan hipertensi [Undergraduate thesis, Universitas Negeri Gorontalo]. SIAT Universitas Negeri Gorontalo. https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2017-1-1-54211-613412076-bab1-20072017110040.pdf
-
Peranginangin, E. H. (2016). Pengaruh ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap penurunan tekanan darah tikus putih jantan yang diinduksi NaCl [Undergraduate thesis, Universitas Medan Area]. Repositori UMA. https://repositori.uma.ac.id/bitstream/123456789/762/5/118210063_file5.pdf
-
Riyanti, E. (2018). Uji efek antihipertensi ekstrak etanol daun seledri (Apium graveolens L.) terhadap tikus putih jantan galur Wistar. Farmaka, 16(1), 41–47. https://jurnal.unpad.ac.id/farmaka/article/viewFile/17343/pdf

Kontak Kami
Yayasan Tarakanita
Jl. Pelepah Indah Raya Jl. Boulevard Raya Gading Serpong No.1, Klp. Dua, Kec. Klp. Dua, Tangerang, Banten 18510
P: (021) 3908836